Jumat, 27 Maret 2015

menjadi remaja unggulan

Diposting oleh Dictiorizki di 23.41

Menjadi Remaja Unggulan




   GardaMuda.com-Namanya juga unggul, pasti beda dengan yang kualitasnya standar alias "biasa-biasa saja". Sama seperti beras unggulan, pasti tidak sama dengan beras biasa apalagi raskin alias beras untuk rakyat miskin (yang biasanya dipilih kualitas paling bawah, sudahlah warnanya tidak bagus, baunya apek, rasanya sudah pasti tidak sedap). Dengan demikian, kualitas amalan unggulan mestinya berada pada posisi terbaik, paling optimal yang bisa kita upayakan.
   Misalnya nih, kita ingin menjadikan menulis sebagai salah satu amal unggulan kita. Maka tidak semestinya kita menulis asal jadi, kejar setoran, asal tancap. Jangankan dipikir masak-masak agar bisa memberi pencerahan buat pembaca, kita asal mengikuti tren saja dalam menulis, alias mengekor penulis lain yang lagi digemari.
   Atau misalnya kita menjadikan pekerjaan kita saat ini sebagai amal unggulan, berarti seharusnya kita mengupayakan terbaik yang kita bisa dalam bekerja. Misalnya datang kerja tepat waktu, mengerjakan tugas tepat jadwal, bisa diandalkan alias dipercaya oleh rekan kerja yang lain, memiliki ide-ide baru yang dapat lebih meningkatkan kualitas pekerjaan. Pokoknya apa pun yang dapat menambah nilai amalan tersebut musti kita upayakan.
2.   Kuantitas Amalan
   Selain mutu atau kualitas, kuantitas alias jumlah amalan juga dapat menjadi indikator keunggulan amalan kita. Apakah kita hanya melakukan amalan tersebut dalam jumlah kecil atau besar?
   Misalnya kita menjadikan sedekah sebagai amalan unggulan kita, lalu berapakah nilai yang kita sedekahkan? 10 persen dari kemampuan kita, atau 50 persen atau malah 70 persen dari kemampuan kita?
   Besarnya kuantitas amalan ini tentu terkait dengan keyakinan kita. Ketika kita percaya dan yakin bahwa Allah akan mengganti semua sedekah kita berkali-kali lipat langsung di dunia ini, maka kuantitas yang kita keluarkan pastilah besar.
   Kuantitas amalan ini tentu tidak bisa dibandingkan antara satu orang dengan orang lainnya, karena kemampuan tiap orang tidak sama. Seseorang yang memiliki penghasilan 10 ribu kemudian menyedekahkan 5 ribu tentu jauh lebih besar pengorbanannya daripada orang dengan penghasilan 1 juta kemudian menyedekahkan 50 ribu.
3.   Kesinambungan Amalan
Amal unggulan mustilah sesuatu yang dilakukan secara terus-menerus. Bukan hanya sesuatu yang dilakukan dengan kualitas terbaik dan kuantitas banyak tapi hanya dilakukan sekali, setelah itu mati.
Sama seperti Khairuddin Afandi yang terus menerus menganggap dirinya sudah makan alias Shanke Yadem, dengan prinsip itu ia merelakan uangnya ditabung demi membangun sebuah masjid. Ia tidak melakukan hal tersebut sekedar kalau ingat saja, atau sekali-kali saja kalau sedang tidak lapar. Ia melakukan hal tersebut secara kontinyu hingga bertahun-tahun lamanya, sehingga tabungannya akhirnya cukup untuk memenuhi impian mulianya membangun masjid.
Kesinambungan amalan dapat memperlihatkan keseriusan dan fokus kita. Sama dengan batu keras yang dapat dilubangi oleh tetesan air dalam waktu panjang, sesuatu yang kontinyu-meskipun kecil-mampu mengubah hal mustahil menjadi mungkin.
Dengan melakukan suatu amalan secara terus-menerus, tanpa sadar kita sesungguhnya sedang meningkatkan kemampuan diri sendiri.
Misalnya kita menjadikan "menulis cerpen" sebagai amal unggulan, apakah kita kontinyu memproduksi cerpen sebulan sekali? Atau satu semester satu cerpen? Atau seminggu satu cerpen? Atau malah satu hari satu cerpen?
Poinnya adalah, kita harus bersabar dan konsisten dalam melakukan amalan unggulan tersebut.
4.   Nilai Kegunaan
   Ini adalah poin penting! Banyak orang yang keliru menjadikan sesuatu sebagai amalan unggulan karena ia hanya memikirkan nilai manfaatnya untuk diri sendiri saja. Misalnya, menjadikan menulis novel sebagai amalan unggulan agar suatu saat menjadi novelis terkenal dan banyak uang. Menjadikan bernasyid sebagai amalan unggulan agar kelak bisa menjadi tim nasyid yang populer selevel dengan anak-anak band.
   Padahal amal unggulan baru bisa memiliki nilai ketika ia membawa manfaat untuk orang lain, tidak sekedar berguna untuk diri sendiri.
5.   Keikhlasan
Nah, inilah poin yang terpenting! Keikhlasan merupakan syarat mutlak amalan unggulan kita diakui oleh Allah, kalau kita mengunggulkan sebuah amalan adalah demi membanggakan diri di hadapan manusia lain, "Nih... gue dong hebat bisa bangun masjid!" sudah pasti yang memberi apresiasi hanyalah manusia saja.
Akan tetapi jika kita mempersembahkan amalan unggulan kita hanya untuk Allah semata, niscaya Allah dan seluruh makhluk di Langit dan bumi mengapresiasi amal unggulan kita tersebut.

0 komentar:

 

luluk marwati Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos